Kumpulan Twit @Auliyyaa “Pada Siapa Kita Paling Bersalah?”

index

(10 September 2012)

Pada siapakah kita paling bersalah? #tanya #renungan untuk #kesadaran

Kita paling bersalah pada diri kita sendiri. #kesadaran

Mengapa kita paling bersalah pada diri sendiri? Karena.. (cont) #kesadaran

1. Setiap kita melakukan keburukan, diri kita sendiri yg akan menerima akibatnya. #kesadaran

2. Kita sendiri yg membuat batasan terhadap diri kita. #kesadaran

3. Janji yg paling mudah diingkari adalah janji pada diri sendiri. #kesadaran

Mungkin kita membela, bahwa kita tak dapat dukungan atau malah antisupport dari org lain ttg apa yg bisa/tidak kita lakukan. #kesadaran

Tapi tetap, kita bisa memilih: a. Jalan terus; b. berhenti krn tiada dukungan; c. berhenti krn yg ada antisupport. #kesadaran

Kita sendiri yg memilih, dan imbas paling besar dari pilihan2 yg kita ambil adalah (sebenarnya) untuk diri sendiri. #kesadaran

Kita bertanggung jawab pada diri kita sendiri. #kesadaran

 

I’m sorry to myself, my apologies begin here before anybody else.. #morissette #kesadaran

 

Yang penting bukan apa yg terjadi, tapi respon apa yg kita pilih untuk hal yg terjadi. #kesadaran

Memang tak semudah bicara, menulis twit, tapi yg jelas ketika kita berpijak pada ladang segala kemungkinan, kita tahu kita bisa. #kesadaran

Contoh: kita dihina org. Responnya? Marah? Hny marah pilihannya? Tnyt gak juga. Kita bisa: cuek, berpikir itu org iri, berdoa,dll.#kesadaran

Contoh: teman ingkar janji. Respon: a. Musuhan; b. Komunikasikan; c. Menjauh; d. Terima (dgn konsekuensi diulangi olehnya) (cont) #kesadaran

e. Terima (dgn harapan tak diulangi,&pemahaman manusia bisa khilaf). f. Terima, tp gakkan buat janji lagi dgnnya. g. Dan lain2. #kesadaran

Ternyata banyak respon yg bisa kita pilih.. Agar tak bersalah pada diri kita, kita bisa pilih respon terbaik dan positif #kesadaran

 

Ketika kita putus cinta. Respon: 1. Sedih berlarut2; 2. Sedih sebentar aja; 3. bersyukur kita dtunjukkan bhw dia bkn yg terbaik; #kesadaran

 

Ketika kita tahu suatu hubungan tidak sehat lagi, kita sudah berusaha maksimal, tapi kita terus disakiti, ..apa responmu? #kesadaran

 

Kita bisa tahu respon terbaik, tentunya bila kita mencintai diri sendiri. That’s why: love yourself first, then love others. #kesadaran

 

Take time to come home to yourself everyday.. #kesadaran #sekian

 

(Jawaban atas pertanyaan @nink_flo tentang “apa responku ketika putus cinta?” sebagai berikut: )

Pilihan yg kita ambil pd suatu waktu biasanya tercipta dari proses belajar selama ini dan #kesadaran pada saat itu :D @nink_flo

Ketika kita putus cinta. Respon: 1. Sedih berlarut2; 2. Sedih sebentar aja; 3. bersyukur kita dtunjukkan bhw dia bkn yg terbaik;

What Goes Around Comes Around.. (2)

WGACA

Masih berbicara tentang apa yang “diberikan” akan “kembali” kepada diri sendiri, tetapi kali ini kita akan bahas lebih spesifik kepada “perkataan”.

Semua orang tahu lidah itu bisa mendamaikan hati dan bisa juga sebaliknya: menyakiti hati. Oleh sebab itu, kita harus bijak menggunakan kata-kata, atau dengan kata lain menggunakan kata-kata dengan sadar. Kadangkala (atau mungkin seringkali?) kita menggunakan kata dengan settingan default atau otomatis. Setelah terucap, baru kita sadar sebenarnya kata-kata tadi tak pantas diucapkan. Itupun syukur masih sadar, bagaimana dengan yang tidak sadar?

Jika kita memandang masalah ini seperti bahasan dari tulisan pertama WHAT GOES AROUND COMES AROUND.. (1) , maka hasil yang kita peroleh adalah “kita akan disakiti/dihibur juga oleh kata-kata sebagaimana yang sudah kita lakukan kepada orang lain”. Tetapi, dalam bahasan “kata-kata” seperti yang hendak kita bahas di sini, ada yang lebih menarik. Apa itu?

Bahwa kata-kata yang kita berikan kepada orang lain hendaknya menjadi cermin bagi kita sendiri, sebelum dan sesudah kita mengucapkannya.

Dari mana asal kesimpulan itu?
Baik, mari kita merenung:
1. Pernahkah temanmu curhat, lalu kamu menghibur dia dengan kata-kata “Sabar ya, semua masalah ada solusinya kok, yang penting jangan emosi”
Lalu tak lama kemudian (dalam hitungan jam, atau hari, atau minggu) dirimu mempunyai masalah dan begitu berat untuk sabar.

2. Pernahkah marah kepada orang lain, “Dia itu munafik, semua yang dia bilang itu bohong!”
Lalu dirimu tersadar, oh ya, selama ini aku juga tidak begitu jujur kepada orang lain. Mungkin dibohongin kali ini balasan berbohong kepada orang lain sebelumnya.

3. Pernahkah menganjurkan kepada orang lain, “Makanya jadi orang itu harus berpikir dulu sebelum bertindak!”.
Lalu tak lama kamu sadar bahwa kamu melakukan sesuatu tanpa berpikir sehingga punya cerita yang sama seperti orang yang kamu anjurkan tadi.

Dari tiga kasus di atas, syukurnya sadar. Ada bahkan yang tak sadar. Tak pernah bertanya. Tak mengkaji. Ini bukan hanya yang aku amati dan alami, tapi sempat didiskusikan dengan beberapa orang teman. Mereka mempunyai kesimpulan yang sama:

1. Sebelum berkata, pikir dulu yang selama ini sudah kamu jalankan. Berat tanggung jawabnya mengatakan hal yang selama ini belum dilakukan.

2. Setelah berkata, harus segera evaluasi. Dan siap melakukan seperti yang kita katakan/anjurkan kepada orang lain.

Nah, kesimpulan di atas itu memerlukan kesadaran. Jika belum pernah mengalami seperti hal-hal di atas, bisa jadi karena tidak sadar. Tidak ada salahnya mulai sekarang mulai sadar ketika berkata dan siap-siap menerima tanda baliknya perkataan kita tersebut kepada diri sendiri. Nanti bagi-bagi yaa pengalamannya Big Smile

Oh iya, ngomong-ngomong, pernah dong sebal sama orang karena ngomongnya itu kaya orang suci saja. Yang bilang orang leletlah, tidak bertanggung jawablah, dll. Padahal kita tahu perilaku  dia kurang lebih sama dengan perilaku orang yang dimakinya. Perasaan, kita ingin menyodorkan cermin sebesar-besarnya ke muka dia, atau pengen membahas “Apa sih bedanya dia sama kamu? Kamu kan dulu bla bla bla..”
Nah, bagaimana kalau kita yang di posisi dia (si tukang maki) terus ada teman kita yang juga ingin menyodorkan cermin pada kita agar kita ngacaaa!! Grimace Malu banget, dong! Makanya, sebelum ngomong, ngaca dulu, kita sama gak kaya orang yang kita sebelin? Kalau sama, lha kok protes?

Tips: Kalo aku sih ya, kalau mau bilang untuk orang yang aku juga sama kelemahannya, ya udah ngaku aja.
Contoh: “Dia itu ya, kalo dibilangin keras kepala. Ya sama kaya aku juga sih, hehe” Hit with Brick

Semoga bermanfaat! Shame

What Goes Around Comes Around.. (1)

what goes around

Ada sebuah ungkapan(idiom) dalam bahasa Inggris, “What Goes Around Comes Around”, definisinya sebagai berikut:

What(ever) goes around, comes around.
Prov.
The results of things that one has done will someday have an effect on the person who started the events.
So he finally gets to see the results of his activities. What goes around, comes around. Now he is the victim of his own policies. Whatever goes around comes around.

(dari http://idioms.thefreedictionary.com/What+goes+around,+comes+around)

Akun twitter The Chopra Foundation (@SageScientists) menuliskan di twitnya “If you want something, give it!”
Jika ingin uang, berikan uang. Jika ingin cinta, berikan cinta. Jika ingin sahabat, jadilah sahabat. Jika ingin dimengerti, mengertilah lebih dahulu..

Konsep ini sejalan dengan konsep dalam Islam. Apakah itu tentang sedekah (yang akan dibalas berkali-kali lipat), atau tentang setiap perbuatan ada balasannya.

Barang siapa yang mengerjakan kebaikan sebesar dzarahpun, niscaya dia akan melihat (balasan)nya. Dan barang siapa mengerjakan kejahatan sebesar  dzarahpun, niscaya dia akan melihat (balasan)nya juga“ (QS. Al Zalzalah : 7-8 )

Mari kita lihat secara sains sebagai berikut:

Hukum kekekalan energi adalah salah satu dari hukum-hukum kekekalan yang meliputi energi kinetik dan energi potensial. Hukum ini adalah hukum pertama dalam termodinamika.

Hukum Kekekalan Energi (Hukum I Termodinamika) berbunyi: “Energi dapat berubah dari satu bentuk ke bentuk yang lain tapi tidak bisa diciptakan ataupun dimusnahkan (konversi energi)”.

Energi yang kita lepaskan, dia tidak hilang, dia tetap ada, hanya berubah bentuk. Dan karena tidak hilang, dia tetap ada.Ke mana energi tersebut? Jika sesuai idiom yang kita jadikan judul post ini, sesuai dengan twitnya @SageScientist, dan sesuai dengan firman-Nya, energi tersebut akan kembali kepada yang telah memberikan.

Saya penggemar serial Cougar Town, diperankan oleh Courteney Cox, Christa Miller, Busy Philipps, Dan Byrd, Josh Hopkins, Ian Gomez, Brian Van Holt. Dalam sebuah episodenya (Season 2 Episode 14: Cry To Me), ada sebuah segmen yang kerap dinamakan orang sebagai “Circle of Love and Circle of Anger”. Berikut cuplikannya:

Jadi, masih tak mau sadar bila melakukan sesuatu? Remember, what goes around, comes around! :yes: :-))

ROOTS(2)

roots

Kembali berbicara tentang akar.. Akar adalah pondasi yang mendukung seluruh bagian yang ada di atas..

Melihat ke dalam filosofi kehidupan, seharusnya setiap tindakan yang kita lakukan mempunyai akar atau dasar.. Bisa disebut tujuan, tapi aku lebih setuju tujuan tersebut adalah satu paket dengan latar belakang.

la·tar be·la·kang n 1 hiasan (berupa pemandangan atau musik): drama Hijrah Nabi dipentaskan dng — lagu-lagu kasidah; 2 efek musik dan suara yg melatari acara televisi maupun radio; 3 adegan di dl film layar lebar, televisi, atau pd foto (dl dunia produksi, fotografi, atau percetakan); 4 dasar (alasan) suatu tindakan (perbuatan); motif: pembunuhan itu masih sedang diusut; 5keterangan mengenai suatu peristiwa guna melengkapi informasi yg tersiar sebelumnya; 
me·la·tar·be·la·kangi v menjadi penyebab; mendorong: tindakan sewenang-wenang pengusahalah yg ~ pemogokan buruh

tu·ju·an n 1 arah; haluan (jurusan); 2 yg dituju; maksud; tuntutan (yg dituntut); 

Mengapa kamu kuliah? Apa dasarnya? Apa tujuannya? Apa akarnya?
Mengapa kamu  memilih untuk bekerja sebagai profesi tertentu? Apa akarnya?
Mengapa kamu lebih melakukan hal tertentu (secara sadar)?
Semua harusnya ada akarnya. Akar tersebut baiknya dibangun dengan kesadaran. Kesadaran bisa timbul dari pertanyaan. Menanyakan diri sendiri: untuk apa? Apa maksudnya? Supaya apa? Untuk siapa? Untuk mendapatkan apa?

Semakin dalam akar, semakin kokoh kesadaran, maka semakin kokoh pula diri kita dalam menjalani suatu pilihan.
Tetapi, semakin dalam akar, semakin mungkin pula kita lupa terhadap akar. Dunia ini sungguh membutakan.

Kita sudah menetapkan dasar/tujuan dengan kesadaran saja bisa mengalami pembiasan, apalagi bila tidak dimulai dengan kesadaran. Seperti efek Stark/efek Zeeman di fisika kuantum:

Efek Stark adalah pergeseran atau pemisahan garis spektrum atom menjadi beberapa komponen disebabkan oleh adanya medan listrik eksternal. Efek ini analog dengan efek Zeeman, yaitu pemisahan sebuah garis spektral menjadi beberapa komponen karena adanya medan magnet.

Medan listrik eksternal dan atau medan magnet eksternal inilah yang membuat garis spektrum tujuan kita membias. Dalam konteks kehidupan kita, medan listrik/medan magnet ini adalah godaan-godaan yang timbul bisa dari mana saja. Pernah ingat slogan “Kejahatan terjadi bukan hanya karena niat, tetapi (juga) karena ada kesempatan” (Edisi bang Napi :laugh: ) ? “Niat” adalah tujuan kita, “kesempatan” adalah hal yang hadir menggoyahkan iman kita.

Terkadang ketika kita sudah menjalani suatu hal, ada kalanya hati menjadi ragu, gelisah. Kejadian ini disebabkan karena kita lupa akan akar. Ambil contoh: melakukan sesuatu untuk orang lain dan berjanji pada diri sendiri melakukan hal ini untuk kebahagiaannya. Pada suatu fase, kita menjadi marah pada orang tersebut karena seakan dia tidak memedulikan kita. Tanpa kesadaran dan tanpa kembali ke akar, kita akan dengan mudah menjaga kemarahan atau kebencian itu dalam hati. Kita lupa akar. Bukankah niatnya untuk kebahagiaannya? Mengapa sekarang jadi membahas kebahagian diri kita sendiri (yang seharusnya juga bisa dicapai bila kita ingat akar, karena sejalan dengan tujuan kita). Bukannya niatnya tulus? Mengapa terkotori? Mengapa mengharapkan balasan? Bukannya tulus?  :-?

Mengapa hal seperti ini bisa terjadi? Karena lupa akar!

Kasus lain, mencintai seseorang itu untuk apa sih? Untuk memuaskan nafsu kita, sehingga kita berusaha memilikinya dan terpuaskanlah ego kita? Apa akarnya? Jika pada awalnya memilih pikiran “aku ingin memilikinya karena aku jatuh cinta padanya, dan karena aku cinta, maka aku harus memilikinya”, dasarnya apa? Apa dasarnya kamu mencinta? Apa akarnya? Salah akar, salah hasil. Salah hasil di sini maksudnya adalah hasil yang membuat kita tidak bahagia, membuat kita upset, dan berperasaan negatif. Kita mudah digoyahkan.
Bukankah akar mencintai seseorang itu harusnya berdasar atas kecintaan kita kepada-Nya? Itu sungguh suatu akar yang kuat.

“Barangsiapa mencintai karena Allah, membenci karena Allah, memberi karena Allah dan menahan (tidak memberi) karena Allah, sungguh ia telah menyempurnakan keimanan.”
(Hadits shahih lighairihi, diriwayatkan oleh Abu Dawud (4681) dari jalur Yahya bin al-Harits dari al-Qasim dari Abu Umamah secara marfu’).

“Ada tiga perkara, siapa saja yang memilikinya niscaya ia akan merasakan manisnya iman: (1) Allah dan Rasul-Nya menjadi yang paling ia cintai daripada selain keduanya. (2) Mencintai seseorang karena Allah semata. (3) Benci kembali kepada kekufuran sebagaimana ia benci dilemparkan ke dalam api.”
(Hadist shahih riwayat Bukhari dan Muslim dari shahabat Anas bin Malik – semoga Allah meridhainya).

Jika kita mencintai seseorang karena-Nya, tentu kita tidak akan rapuh menjalaninya, apapun yang terjadi selanjutnya. Bila terjadi suatu kegundahan hati, jangan lupa: kembali ke akar!

 

Buat akar yang kokoh, dan jangan lupakan akar tersebut!

ROOTS (1)

roots

Akar adalah dasar. Akar yang kuat akan menopang seluruh bagian dengan kuat. Akar yang lemah akan membuat seluruh bagian lainnya lemah dan mudah goyah. Maka pentinglah kita membangun dasar yang kuat.

Setiap hal mempunyai dasar. Setiap materi mempunyai dasar. Apa bagian terkecil dari materi? Atom? Masih bisa dibelah menjadi sub-atom. Dan bila terus menerus dibelah, maka akan didapatkan energi yang bila terus menerus dibelah dan dibelah, maka akan ditemukan kehampaan. Atau dengan kata lain tak ditemukan apa-apa.

Mengutip Jalaluddin Rumi:

“Dialah Allah, yang membuat yang tidak ada menjadi tampak nyata, dan meskipun nyata ada, Dialah Allah yang membuatnya menjadi tidak tampak”

Bila semua apa yang tampak di dunia ini adalah sebenarnya kehampaan, lalu apa dasar kita? Apa artinya? Bagaimana bisa? Yang kasat mata berarti sebenarnya tak ada? Ah, anda yang benar saja. Baiklah, mari kita kutip pembahasan Erbe Sentanu (penulis buku Quantum Ikhlas) sebagai berikut:

Di dalam dunia ilmu fisika secara umum terdapat dua pandangan yaitu fisika klasik dan fisika kuantum. Ilmu fisika klasik atau sering disebut “Newtonian” yang memulai observasinya dari benda solid yang “bisa dilihat” sehari-hari, seperti jatuhnya buah apel hingga pergerakan planet. Kepastian hukum mekanisme “bola biliar” yang diadopsi ke dalam cara kerja mesin industri yang sudah berlaku selama beberapa ratus tahun ini berhasil mengantarkan Revolusi Industri. Namun, di akhir abad 19 ketika para ilmuwan mulai membuat peralatan untuk menginvestigasi benda-benda atau sangat kecil, mereka menemukan sesuatu yang membingungkan dimana ilmu fisika Newton tidak lagi mampu menjelaskan atau memprediksikan apa yang mereka temukan di laboratorium. Sejak itu, hingga kurun waktu seratus tahun ini, suatu penjelasan ilmiah yang baru lahir untuk menjelaskan tingkah laku benda atom yang sangat kecil dan “tidak bisa dilihat”itu. Dan penelitian ilmiah tersebut membuka tabir adanya kenyataan dunia yang benar-benar baru dikenal sebagai “mekanika kuantum, fisika kuantum, atau teori kuantum.” Ilmu fisika baru ini tidak hadir untuk menggeser ilmu fisika Newton yang masih berjalan baik untuk menjelaskan benda-benda yang cukup besar dan “terlihat”. Ilmu fisika kuantum justru sengaja dimaksudkan untuk mengeksplorasi wilayah-wilayah kebendaan yang sangat kecil dan tidak mampu lagi digapai oleh “mata” fisika Newton yaitu dunia sub-atomic yang begitu kecil.

Para ahli fisika kuantum (quantum physics), yang paling popular diantaranya adalah Albert Einstein dan beberapa nama lain seperti Richard Feynman, Werner Heisenberg, Niels Bohr, David Bohm, Erwin Schrodinger, hingga Fred Alan Wolf, Amit Goswani, David Albert, dan banyak lagi. Para ilmuwan kuantum ini meneliti apa sebenarnya yang terjadi ketika sebuah benda dibelah terus-menerus hingga ke tingkat materi yang sangat kecil. Dan materi terkecil itu pun terus dibelah lagi dengan alat pemecah atom particle accelerator sampai tak terlihat hingga berubah menjadi energi yang terhalus. Dan selama bisa dilakukan, energi terhalus itu pun diusahakan untuk terus-menerus dibelah hingga akhirnya – seolah – lenyap menghilang.

Dari berbagai penelitian itu, ilmu fisika kuantum membawa berita baru seperti ini: bahwa di dunia energi terhalus yang “tak tampak” wujudnya berlaku hukum yang berbeda dengan dunia benda yang “tampak”. Yaitu hukum fisika kuantum yang unik dan agak “sulit dipercaya”, yang diantaranya:

  1. Di dunia kuantum sebenarnya tidak ada benda yang padat kecuali ruang hampa.
  2. Tingkah laku partikel yang berubah-ubah dari benda padat menjadi getaran vibrasi dan sebaliknya tergantung dari “niat” penelitinya.
  3. Berlakunya Hukum Ketidakpastian/Kesaling-tergantungan (uncertainty principle), hingga,.
  4. Hukum Non-Lokalitas yang menyatakan bahwa unsure terkecil dari semua benda itu sebenarnya ada disini dan di mana-mana sekaligus

Jadi, semuanya hampa? Kita adalah kehampaan itu juga? Secara fisik, begitulah yang ditemukan sains. Jadi apa dasar kita? Kita ini sebenarnya apa? Kita memang tidak tahu apa-apa kecuali itu. Yang tahu ya Yang Maha Tahu.

“Kamu tidak berada dalam suatu keadaan dan tidak membaca suatu ayat dari Al Qur’an dan kamu tidak mengerjakan suatu pekerjaan, melainkan Kami menjadi saksi atasmu di waktu kamu melakukannya. Tidak luput dari pengetahuan Tuhanmu biar pun sebesar zarah (atom) di bumi atau pun di langit. Tidak ada yang lebih kecil dan tidak (pula) yang lebih besar dari itu, melainkan (semua tercatat) dalam kitab yang nyata (Lohmahfuz).” (QS. Yunus 61)

Pengetahuan manusia memang sangat kecil sekali dibandingkan Yang Maha Tahu.

Baik, secara fisik kita merasa hampa setelah mengetahui fisika kuantum (dan memang kita tidak ada apa-apanya sih ya :D). Secara spiritual, kita ini apa? Wah, bagian ini jauh lebih sulit mencari tahu secara sains (atau tidak mungkin?). Ini harus dibahas secara spiritual tentu saja. Beruntunglah kita, ada mukjizat terbesar yaitu Al-Quran, yang terjaga kesuciannya sampai kapanpun. Jadi, mari kita banyak-banyak dan sering-sering membacanya dan mencari petunjuk.

Secara biologi: manusia tercipta awalnya dari sel sperma dan sel telur. (Intermezo: manusia pertama?)

Secara wahyu: “Dan sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dari suatu saripati (berasal) dari tanah. Kemudian Kami jadikan saripati itu air mani (yang disimpan) dalam tempat yang kokoh (rahim). Kemudian air mani itu Kami jadikan segumpal darah, lalu segumpal darah itu Kami jadikan segumpal daging, dan segumpal daging itu Kami jadikan tulang belulang, lalu tulang belulang itu Kami bungkus dengan daging. Kemudian Kami jadikan dia makhluk yang (berbentuk) lain. Maka Maha Sucilah Allah, Pencipta Yang Paling Baik.” [QS. al-Mukminun (23):12-14]

Itulah penjelasan proses penciptaan manusia. Dalam hal keimanan, tentu wahyu tersebut sangat mendukung, karena sains membuktikan proses tersebut. Selanjutnya, dalam menjalani kehidupan sehari-hari, tentu kita punya dasar yang harus selalu kita ingat: untuk apa kita diciptakan?

Hati-hati, pertanyaan itu bisa menjadi ambigu.  Coba diresapi, pasti beda :D

1 2 3
Mengapa manusia menemukan traktor? beda dengan Traktor ini fungsinya apa?
Karena menggunakan hewan tidak efisien Jawaban Traktor berfungsi mengolah tanah
Ini adalah Latar Belakang   Ini adalah Tujuan
Penyebab Titik Pengamatan Tujuan/Fungsi/Tugas

Nah, yang kita bahas adalah seperti yang di tabel di atas di kolom tiga. Apa tujuan manusia diciptakan? (masih ambigu ya?). Baik, lebih lugas lebih baik: apa tugas manusia? Apa tujuan hidupnya? Ini yang penting dicari. Ini adalah yang seharusnya menjadi dasar kita menjalani kehidupan. Menjadi akar.

“Dan Tidaklah Aku Menciptakan Jin dan Manusia Kecuali untuk Beribadah Kepada-Ku” (QS Adz Dzariyat : 56)

Tentu ibadah di sini pengertiannya luas.

Mari.. mari.. kembali ke akar..! O:-)