Masterpiece


Want create site? Find Free WordPress Themes and plugins.

Ingat saat Budi mengucapkan selamat ultah buatku, salah satu
harapannya semoga aku bisa membuat masterpiece.

Dalam hal apa? Kukira, karena aku penulis (yang amat sangat
tidak produktif – I’ll be back soon), berarti mungkin novel atau buku yang menjadi masterpice.

Hmm.. inspirasi sangat banyak. But, I ain’t start it yet.

Beberapa minggu yang lalu, aku memperoleh inspirasi dari
mimpi. Godd**ned, aku lupa mimpinya bagaimana. Mimpiku itu dari awal sampai
akhir seperti sebuah kisah yang memang diberikan kepadaku sebagai inspirasi
novel. Aku terbangun setelah ceritanya selesai, dan karena aku tahu mimpi -walaupun
sangat nyata sangat besar kemungkinannya kita lupa terutama kalau ceritanya
tidak sejalan dengan yang sedang kita alami, maka aku langsung mengingat,
memahatnya dalam otakku supaya tidak kelupaan. Lalu aku tidur kembali. Pagi
hari, aku masih ingat sebagian ceritanya. Tapi kemudian… Hilang!

Sh*t!

Hmm..beberapa malam yang lalu, aku bermimpi dengan jenis
yang sama: memberikan inspirasi cerita, walaupun yang kali ini lebih mengena di
kehidupanku (dulu).

Begini ceritanya:

Aku dalam perjalanan bersama sahabat-sahabatku ke sebuah
tempat.

Ada sebuah acara seperti training/workshop/sejenisnya. Di dalam mobil aku bersama
sahabat-sahabat, termasuk salah satu di antaranya sahabatku yang paling dekat
(sahabat dalam cerita itu, bukan dalam kehidupan nyata, aku tidak ingat
wajahnya). Sesampainya di tujuan, aku dan sahabat lain menyadari kalau sahabat
terdekatku itu hilang dari mobil tanpa kami sadari. Ia lenyap begitu saja.
Tanpa jejak, tanpa tanda apapun. Ia hilang, menguap begitu saja.

Di acara itu, tentu saja aku tidak berkonsentrasi lagi.
Semua sahabat mengikuti acara itu, tetapi aku hanya menyumbangkan tubuhku di
dalam ruang, jiwaku mengembara.

How could this be. Aku begitu sedihnya, begitu terpukulnya.

Sampai pada suatu saat aku memakai baju seperti baju
pramuka, dan ada tali peluitnya yang putus. Tiba-tiba (aku tidak ingat dari
mana) aku memegang peluit dengan talinya yang pendek. Kucocokkan dua tali itu
dan menyimpulnya, kemudian aku mendapat ilham (dari alam gaib, mungkin) kalau
aku harus menggunakannya untuk mencari sahabatku itu. Dugaan yang ada dia
ditelan alam gaib berupa hutan gelap. Jika aku hendak menemukannya, aku harus
meniup peluit itu sambil berkeliling supaya sahabatku yang hilang bisa
menemukanku, yang merupakan jalan kembalinya menuju alam nyata.

Selanjutnya, aku langsung dibawa ke akhir cerita. Sepertinya
usahaku mencarinya dalam hutan gaib tidak membuahkan hasil. Aku tidak menemukan
sahabatku.

Aku kembali ke kota asal dengan hati yang teramat gundah. Aku mengunjungi keluarga sahabatku itu,
langsung masuk dan menemui ibunya yang buta. Ibunya berjalan pelan-pelan (ala
tidak bisa melihat) sepanjang lorong rumah dan menemuiku di ruang tamu.

Aku langsung menumpahkan penyesalanku, rasa bersalahku,
karena aku kehilangan anaknya. Aku begitu sedihnya. Aku menangis.
Meraung-raung. Dengan dada yang sesak. Nafas tersengal. Cairan hidung yang
menyumbat. Air mata yang mengalir lebih deras dari Niagara.
Berteriak-teriak karena penyesalan.
Tetapi…

Ibunya yang buta memegang kepalaku, dengan tenang dan raut
wajah yang emosinya selembut awan itu, berkata, “Sudahlah, nak, ikhlaskan saja,
kami sekeluarga sudah ikhlas kehilangan dia. Jangan sedih. Kita harus ikhlas,
harus rela. Apa yang diambil-Nya kembali, biarlah diambil, karena sudah
saatnya. Tuhan Mahatahu. Sabar ya.. Ikhlaskan saja…”

Dia tersenyum, TUHAN!! DIA TERSENYUM!

Dan aku menangis.

Itulah bagian klimaksnya, yang membuatku terbangun…

Kudapati air mata nyata di wajahku…

***

Inspirasi novel dengan cerita seperti itu? Kurasa belum
memenuhi. Tetapi, bagaimanapun, mimpi itu seperti benar-benar nyata. Dan MEMANG
sebuah novel bagiku (hanya bagiku, bukaan buat orang lain).

Mimpiku menginspirasi bukan dengan jalan ceritanya, tetapi
dengan soul-nya. Spirit-nya.

Geloranya. Panasnya.

Mimpi itu, bukan hanya inspirasi untuk masterpiece-ku. Mungkin juga bagi kehidupan nyataku.

Baik, aku sudah tidak mempunyai harapan agar sahabatku di
dunia nyata kembali, aku berusaha melepaskannya, aku melupakannya. Tetapi
kurasa ada ruang kecil, di mana dia tetap ada di sana, karena bagaimanapun, dia adalah bestfriend-ku, walaupun itu dulu,
walaupun itu anggapan selamanya.

Dan mungkin aku belum ikhlas melepasnya. Padahal, aku sudah
tidak berharap lagi.

Karena mimpi itu, aku mengikhlaskannya. Benar-benar
mengikhlaskannya. Pergilah sahabat, aku tidak mau lagi berusaha melupakanmu,
karena hal itu justru akan membuatku mengingatmu, terutama bagian sakitnya.
Tetapi setelah aku benar-benar mengikhlaskanmu, bukan berarti aku melupakanmu.
Aku terlupa akan sakit karenamu, dan aku hanya terkenang masa-masa yang
menyenangkan saja. Welldone!

***

Jadi ingat satu sms dari temenku dulu:

Engkau tidak akan menemukan pintu lain terbuka, sebelum
pintu yang sudah kau tinggalkan kau tutup dengar rapat.

(Well, okay, it’s not the correct sentence like she had sent
me. Kalau dicari di internet pasti dapat kok, kalimat benernya yang dia
kirimkan).

So, aku harus menutup pintu itu, supaya pintu-pintu lain
terbuka lebar.
Here I come!

Did you find apk for android? You can find new Free Android Games and apps.

Comments 0

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Masterpiece

log in

Become a part of our community!

Captcha!

reset password

Back to
log in
css.php
Choose A Format
Personality quiz
Series of questions that intends to reveal something about the personality
Trivia quiz
Series of questions with right and wrong answers that intends to check knowledge
Poll
Voting to make decisions or determine opinions
Story
Formatted Text with Embeds and Visuals
List
The Classic Internet Listicles
Open List
Open List
Ranked List
Ranked List
Meme
Upload your own images to make custom memes
Video
Youtube, Vimeo or Vine Embeds
Audio
Soundcloud or Mixcloud Embeds
Image
Photo or GIF