ROOTS (1)


Want create site? Find Free WordPress Themes and plugins.

Akar adalah dasar. Akar yang kuat akan menopang seluruh bagian dengan kuat. Akar yang lemah akan membuat seluruh bagian lainnya lemah dan mudah goyah. Maka pentinglah kita membangun dasar yang kuat.

Setiap hal mempunyai dasar. Setiap materi mempunyai dasar. Apa bagian terkecil dari materi? Atom? Masih bisa dibelah menjadi sub-atom. Dan bila terus menerus dibelah, maka akan didapatkan energi yang bila terus menerus dibelah dan dibelah, maka akan ditemukan kehampaan. Atau dengan kata lain tak ditemukan apa-apa.

Mengutip Jalaluddin Rumi:

“Dialah Allah, yang membuat yang tidak ada menjadi tampak nyata, dan meskipun nyata ada, Dialah Allah yang membuatnya menjadi tidak tampak”

Bila semua apa yang tampak di dunia ini adalah sebenarnya kehampaan, lalu apa dasar kita? Apa artinya? Bagaimana bisa? Yang kasat mata berarti sebenarnya tak ada? Ah, anda yang benar saja. Baiklah, mari kita kutip pembahasan Erbe Sentanu (penulis buku Quantum Ikhlas) sebagai berikut:

Di dalam dunia ilmu fisika secara umum terdapat dua pandangan yaitu fisika klasik dan fisika kuantum. Ilmu fisika klasik atau sering disebut “Newtonian” yang memulai observasinya dari benda solid yang “bisa dilihat” sehari-hari, seperti jatuhnya buah apel hingga pergerakan planet. Kepastian hukum mekanisme “bola biliar” yang diadopsi ke dalam cara kerja mesin industri yang sudah berlaku selama beberapa ratus tahun ini berhasil mengantarkan Revolusi Industri. Namun, di akhir abad 19 ketika para ilmuwan mulai membuat peralatan untuk menginvestigasi benda-benda atau sangat kecil, mereka menemukan sesuatu yang membingungkan dimana ilmu fisika Newton tidak lagi mampu menjelaskan atau memprediksikan apa yang mereka temukan di laboratorium. Sejak itu, hingga kurun waktu seratus tahun ini, suatu penjelasan ilmiah yang baru lahir untuk menjelaskan tingkah laku benda atom yang sangat kecil dan “tidak bisa dilihat”itu. Dan penelitian ilmiah tersebut membuka tabir adanya kenyataan dunia yang benar-benar baru dikenal sebagai “mekanika kuantum, fisika kuantum, atau teori kuantum.” Ilmu fisika baru ini tidak hadir untuk menggeser ilmu fisika Newton yang masih berjalan baik untuk menjelaskan benda-benda yang cukup besar dan “terlihat”. Ilmu fisika kuantum justru sengaja dimaksudkan untuk mengeksplorasi wilayah-wilayah kebendaan yang sangat kecil dan tidak mampu lagi digapai oleh “mata” fisika Newton yaitu dunia sub-atomic yang begitu kecil.

Para ahli fisika kuantum (quantum physics), yang paling popular diantaranya adalah Albert Einstein dan beberapa nama lain seperti Richard Feynman, Werner Heisenberg, Niels Bohr, David Bohm, Erwin Schrodinger, hingga Fred Alan Wolf, Amit Goswani, David Albert, dan banyak lagi. Para ilmuwan kuantum ini meneliti apa sebenarnya yang terjadi ketika sebuah benda dibelah terus-menerus hingga ke tingkat materi yang sangat kecil. Dan materi terkecil itu pun terus dibelah lagi dengan alat pemecah atom particle accelerator sampai tak terlihat hingga berubah menjadi energi yang terhalus. Dan selama bisa dilakukan, energi terhalus itu pun diusahakan untuk terus-menerus dibelah hingga akhirnya – seolah – lenyap menghilang.

Dari berbagai penelitian itu, ilmu fisika kuantum membawa berita baru seperti ini: bahwa di dunia energi terhalus yang “tak tampak” wujudnya berlaku hukum yang berbeda dengan dunia benda yang “tampak”. Yaitu hukum fisika kuantum yang unik dan agak “sulit dipercaya”, yang diantaranya:

  1. Di dunia kuantum sebenarnya tidak ada benda yang padat kecuali ruang hampa.

  2. Tingkah laku partikel yang berubah-ubah dari benda padat menjadi getaran vibrasi dan sebaliknya tergantung dari “niat” penelitinya.

  3. Berlakunya Hukum Ketidakpastian/Kesaling-tergantungan (uncertainty principle), hingga,.

  4. Hukum Non-Lokalitas yang menyatakan bahwa unsure terkecil dari semua benda itu sebenarnya ada disini dan di mana-mana sekaligus

Jadi, semuanya hampa? Kita adalah kehampaan itu juga? Secara fisik, begitulah yang ditemukan sains. Jadi apa dasar kita? Kita ini sebenarnya apa? Kita memang tidak tahu apa-apa kecuali itu. Yang tahu ya Yang Maha Tahu.

“Kamu tidak berada dalam suatu keadaan dan tidak membaca suatu ayat dari Al Qur’an dan kamu tidak mengerjakan suatu pekerjaan, melainkan Kami menjadi saksi atasmu di waktu kamu melakukannya. Tidak luput dari pengetahuan Tuhanmu biar pun sebesar zarah (atom) di bumi atau pun di langit. Tidak ada yang lebih kecil dan tidak (pula) yang lebih besar dari itu, melainkan (semua tercatat) dalam kitab yang nyata (Lohmahfuz).” (QS. Yunus 61)

Pengetahuan manusia memang sangat kecil sekali dibandingkan Yang Maha Tahu.

Baik, secara fisik kita merasa hampa setelah mengetahui fisika kuantum (dan memang kita tidak ada apa-apanya sih ya :D). Secara spiritual, kita ini apa? Wah, bagian ini jauh lebih sulit mencari tahu secara sains (atau tidak mungkin?). Ini harus dibahas secara spiritual tentu saja. Beruntunglah kita, ada mukjizat terbesar yaitu Al-Quran, yang terjaga kesuciannya sampai kapanpun. Jadi, mari kita banyak-banyak dan sering-sering membacanya dan mencari petunjuk.

Secara biologi: manusia tercipta awalnya dari sel sperma dan sel telur. (Intermezo: manusia pertama?)

Secara wahyu: “Dan sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dari suatu saripati (berasal) dari tanah. Kemudian Kami jadikan saripati itu air mani (yang disimpan) dalam tempat yang kokoh (rahim). Kemudian air mani itu Kami jadikan segumpal darah, lalu segumpal darah itu Kami jadikan segumpal daging, dan segumpal daging itu Kami jadikan tulang belulang, lalu tulang belulang itu Kami bungkus dengan daging. Kemudian Kami jadikan dia makhluk yang (berbentuk) lain. Maka Maha Sucilah Allah, Pencipta Yang Paling Baik.” [QS. al-Mukminun (23):12-14]

Itulah penjelasan proses penciptaan manusia. Dalam hal keimanan, tentu wahyu tersebut sangat mendukung, karena sains membuktikan proses tersebut. Selanjutnya, dalam menjalani kehidupan sehari-hari, tentu kita punya dasar yang harus selalu kita ingat: untuk apa kita diciptakan?

Hati-hati, pertanyaan itu bisa menjadi ambigu.  Coba diresapi, pasti beda 😀

1 2 3
Mengapa manusia menemukan traktor? beda dengan Traktor ini fungsinya apa?
Karena menggunakan hewan tidak efisien Jawaban Traktor berfungsi mengolah tanah
Ini adalah Latar Belakang Ini adalah Tujuan
Penyebab Titik Pengamatan Tujuan/Fungsi/Tugas

Nah, yang kita bahas adalah seperti yang di tabel di atas di kolom tiga. Apa tujuan manusia diciptakan? (masih ambigu ya?). Baik, lebih lugas lebih baik: apa tugas manusia? Apa tujuan hidupnya? Ini yang penting dicari. Ini adalah yang seharusnya menjadi dasar kita menjalani kehidupan. Menjadi akar.

“Dan Tidaklah Aku Menciptakan Jin dan Manusia Kecuali untuk Beribadah Kepada-Ku” (QS Adz Dzariyat : 56)

Tentu ibadah di sini pengertiannya luas.

Mari.. mari.. kembali ke akar..! O:-)

Did you find apk for android? You can find new Free Android Games and apps.

Comments 0

Your email address will not be published. Required fields are marked *

ROOTS (1)

log in

Become a part of our community!

Captcha!

reset password

Back to
log in
css.php
Choose A Format
Personality quiz
Series of questions that intends to reveal something about the personality
Trivia quiz
Series of questions with right and wrong answers that intends to check knowledge
Poll
Voting to make decisions or determine opinions
Story
Formatted Text with Embeds and Visuals
List
The Classic Internet Listicles
Open List
Open List
Ranked List
Ranked List
Meme
Upload your own images to make custom memes
Video
Youtube, Vimeo or Vine Embeds
Audio
Soundcloud or Mixcloud Embeds
Image
Photo or GIF