ROOTS(2)


Want create site? Find Free WordPress Themes and plugins.

Kembali berbicara tentang akar.. Akar adalah pondasi yang mendukung seluruh bagian yang ada di atas..

Melihat ke dalam filosofi kehidupan, seharusnya setiap tindakan yang kita lakukan mempunyai akar atau dasar.. Bisa disebut tujuan, tapi aku lebih setuju tujuan tersebut adalah satu paket dengan latar belakang.

la·tar be·la·kang n 1 hiasan (berupa pemandangan atau musik): drama Hijrah Nabi dipentaskan dng — lagu-lagu kasidah; 2 efek musik dan suara yg melatari acara televisi maupun radio; 3 adegan di dl film layar lebar, televisi, atau pd foto (dl dunia produksi, fotografi, atau percetakan); 4 dasar (alasan) suatu tindakan (perbuatan); motif: pembunuhan itu masih sedang diusut; 5keterangan mengenai suatu peristiwa guna melengkapi informasi yg tersiar sebelumnya;
me·la·tar·be·la·kangi v menjadi penyebab; mendorong: tindakan sewenang-wenang pengusahalah yg ~ pemogokan buruh

tu·ju·an n 1 arah; haluan (jurusan); 2 yg dituju; maksud; tuntutan (yg dituntut); 

Mengapa kamu kuliah? Apa dasarnya? Apa tujuannya? Apa akarnya?
Mengapa kamu  memilih untuk bekerja sebagai profesi tertentu? Apa akarnya?
Mengapa kamu lebih melakukan hal tertentu (secara sadar)?
Semua harusnya ada akarnya. Akar tersebut baiknya dibangun dengan kesadaran. Kesadaran bisa timbul dari pertanyaan. Menanyakan diri sendiri: untuk apa? Apa maksudnya? Supaya apa? Untuk siapa? Untuk mendapatkan apa?

Semakin dalam akar, semakin kokoh kesadaran, maka semakin kokoh pula diri kita dalam menjalani suatu pilihan.
Tetapi, semakin dalam akar, semakin mungkin pula kita lupa terhadap akar. Dunia ini sungguh membutakan.

Kita sudah menetapkan dasar/tujuan dengan kesadaran saja bisa mengalami pembiasan, apalagi bila tidak dimulai dengan kesadaran. Seperti efek Stark/efek Zeeman di fisika kuantum:

Efek Stark adalah pergeseran atau pemisahan garis spektrum atom menjadi beberapa komponen disebabkan oleh adanya medan listrik eksternal. Efek ini analog dengan efek Zeeman, yaitu pemisahan sebuah garis spektral menjadi beberapa komponen karena adanya medan magnet.

Medan listrik eksternal dan atau medan magnet eksternal inilah yang membuat garis spektrum tujuan kita membias. Dalam konteks kehidupan kita, medan listrik/medan magnet ini adalah godaan-godaan yang timbul bisa dari mana saja. Pernah ingat slogan “Kejahatan terjadi bukan hanya karena niat, tetapi (juga) karena ada kesempatan” (Edisi bang Napi :laugh: ) ? “Niat” adalah tujuan kita, “kesempatan” adalah hal yang hadir menggoyahkan iman kita.

Terkadang ketika kita sudah menjalani suatu hal, ada kalanya hati menjadi ragu, gelisah. Kejadian ini disebabkan karena kita lupa akan akar. Ambil contoh: melakukan sesuatu untuk orang lain dan berjanji pada diri sendiri melakukan hal ini untuk kebahagiaannya. Pada suatu fase, kita menjadi marah pada orang tersebut karena seakan dia tidak memedulikan kita. Tanpa kesadaran dan tanpa kembali ke akar, kita akan dengan mudah menjaga kemarahan atau kebencian itu dalam hati. Kita lupa akar. Bukankah niatnya untuk kebahagiaannya? Mengapa sekarang jadi membahas kebahagian diri kita sendiri (yang seharusnya juga bisa dicapai bila kita ingat akar, karena sejalan dengan tujuan kita). Bukannya niatnya tulus? Mengapa terkotori? Mengapa mengharapkan balasan? Bukannya tulus?  😕

Mengapa hal seperti ini bisa terjadi? Karena lupa akar!

Kasus lain, mencintai seseorang itu untuk apa sih? Untuk memuaskan nafsu kita, sehingga kita berusaha memilikinya dan terpuaskanlah ego kita? Apa akarnya? Jika pada awalnya memilih pikiran “aku ingin memilikinya karena aku jatuh cinta padanya, dan karena aku cinta, maka aku harus memilikinya”, dasarnya apa? Apa dasarnya kamu mencinta? Apa akarnya? Salah akar, salah hasil. Salah hasil di sini maksudnya adalah hasil yang membuat kita tidak bahagia, membuat kita upset, dan berperasaan negatif. Kita mudah digoyahkan.
Bukankah akar mencintai seseorang itu harusnya berdasar atas kecintaan kita kepada-Nya? Itu sungguh suatu akar yang kuat.

“Barangsiapa mencintai karena Allah, membenci karena Allah, memberi karena Allah dan menahan (tidak memberi) karena Allah, sungguh ia telah menyempurnakan keimanan.”
(Hadits shahih lighairihi, diriwayatkan oleh Abu Dawud (4681) dari jalur Yahya bin al-Harits dari al-Qasim dari Abu Umamah secara marfu’).

“Ada tiga perkara, siapa saja yang memilikinya niscaya ia akan merasakan manisnya iman: (1) Allah dan Rasul-Nya menjadi yang paling ia cintai daripada selain keduanya. (2) Mencintai seseorang karena Allah semata. (3) Benci kembali kepada kekufuran sebagaimana ia benci dilemparkan ke dalam api.”
(Hadist shahih riwayat Bukhari dan Muslim dari shahabat Anas bin Malik – semoga Allah meridhainya).

Jika kita mencintai seseorang karena-Nya, tentu kita tidak akan rapuh menjalaninya, apapun yang terjadi selanjutnya. Bila terjadi suatu kegundahan hati, jangan lupa: kembali ke akar!

 

Buat akar yang kokoh, dan jangan lupakan akar tersebut!

Did you find apk for android? You can find new Free Android Games and apps.

Comments 0

Your email address will not be published. Required fields are marked *

ROOTS(2)

log in

Become a part of our community!

Captcha!

reset password

Back to
log in
css.php
Choose A Format
Personality quiz
Series of questions that intends to reveal something about the personality
Trivia quiz
Series of questions with right and wrong answers that intends to check knowledge
Poll
Voting to make decisions or determine opinions
Story
Formatted Text with Embeds and Visuals
List
The Classic Internet Listicles
Open List
Open List
Ranked List
Ranked List
Meme
Upload your own images to make custom memes
Video
Youtube, Vimeo or Vine Embeds
Audio
Soundcloud or Mixcloud Embeds
Image
Photo or GIF